
Dayak dan Keterasingan Betawi
Catatan : Bambang M Permadi
Mungkin hanya orang ‘sakit’ atau tidur terlalu panjang yang mengatakan tak ada kemajuan di daerah ini. Pimpinan daerah silih berganti, semuanya sama-sama memiliki komitmen tinggi membangun wilayah . Kerja keras para pemangku kepentingan dan dukungan masyarakat membuahkan hasil yang cukup berarti. Tengok saja, kini hampir semua kabupaten dapat terhubung melalui perjalanan darat. Di sisi , lain berbagai sarana vital seperti lembaga pendidikan dan kesehatan juga terus ditingkatkan keberadaannya. Demikian pula lompatan-lompatan kemajuan di sektor lain.
Sudahnya saatnya Suku Dayak menunjukkan kepada dunia bahwa putra Tambun Bungai juga memiliki kompetensi dan sejajar dengan suku-suku lain. Saat ini Kalteng sudah memiliki banyak stok putra-putri terbaik, dengan berbagai gelar dan keahlian.
Tak bermaksud sukuisme,seharusnya orang Dayaklah yang memegang posisi-posisi penting di daerah ini karena mengenal cukup baik karakteristik wilayah. Sudah saatnya pula orang Dayak jadi pejabat negara, tak hanya orang Jawa, Batak, atau bugis saja seperti yang terjadi selama ini.
Seandainya Tjilik Riwut masih hidup, beliau pasti tersenyum bangga, karena ‘anak cucunya’ dapat mewujudkan sebuah impian besar yang pernah dicita-citakan. Yaitu Kalteng yang maju dan bermartabat.
Tapi bila masih hidup mungkin pula hati Sang Pioneer itu tambah trenyuh. Soalnya, ketika Kalteng maju dan berkembang kearipan lokal mulai tergusur di wilayah ini. Orang tak lagi memandang budaya dan warisan Datu Hiang sebagai yang sakral. Modernisasi terasa semakin menggerus primordialisme. Kini, suara garantung dan syair karungut hanya terdengar lamat-lamat. Generasi muda Dayak dapat dihitung dengan jari yang peduli dengan warisan budayanya. Pertahanan budaya hanya ditopang oleh kaum tua. Kalteng masih beruntung memiliki agama Kaharingan, karena sebagian besar hanya umat Kaharinganlah yang secara konsisten menjalankan warisan budaya Dayak.
Tak dapat ditampik, ketika Kalteng maju sebagian orang Dayak perkotaan malah menepi ke pinggiran
Di Sampit kita sulit mencari di mana sebenarnya komunitas Dayak berada. Dalam komunikasi sesama warga yang sering dipakai adalah bahasa Banjar dialek Sampit. Sementara bahasa Dayak jarang terdengar.Demikian pula di Kuala
Cendekiawan Dayak Kumpiadi Widen mengatakan, terpinggirkannya Suku Dayak dalam ‘persaingan’ karena belum berubahnya cara berfikir ( mindset). Sebagian orang Dayak masih ada yang merasa rendah diri dan menganggap dirinya tak semaju orang lain. Identitas kesukuan seperti penggunaan bahasa daerah dianggap kurang gaul.
Guru Besar Universitas Palangka Raya ( Unpar) itu mengatakan ,masih ada orang Dayak yang malu menggunakan bahasa daerahnya di depan umum. Yang dipakai justru bahasa Banjar.
Lowongan Sarjana Komputer
Kalteng Inside - Badan Pusat Statistik ( BPS ) tahun ini merekrut sebanyak 662 sarjana dari berbagai jurusan, baik jenjang Strata – 1 maupun Diploma III. Disiplin ilmu jenjang Strata-1 yang dibutuhkan adalah Dokter Gigi, Psikologi, Ilmu Komunikasi, Sosiologi ,Sastra Inggris, Akutansi dan Geografi(Kartografi). Sedangkan formasi DIII adalah disiplim ilmu Elektro, Tehnik Sipil,Sekretaris, Tehnik Mesin, Grafika dan Desain Grafis.
Tahun ini BPS juga merekrut tenaga S-1 dan DIII untuk formasi Kordinator Statistik Kecamatan ( KSK), dengan kualifikasi sarjana Matematika, Tehnik Informatika, computer, Ilmu Komunikasi, dan ekonomi. Khusus untuk formasi KSK pendaftaran dilakukan di BPS Propinsi masing-masing, sedangkan formasi lain pendaftaran di BPS Pusat. Testing akan dilaksanakan secara serentak di seluruh
Keterangan lebih lengkap dapat mengunjungi website BPS, www.bps.go.id.
Teras Narang Masih Terlalu Kuat
Analisis : Bambang M Permadi
Bulan Juni 2010 mendatang Kalteng kembali menghelat pesta demokrasi. Kini , salah satu proses pemilihan secara langsung itu adalah pemilihan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng periode 2010 – 2015. Salah satu calon yang diunggulkan tentu saja calon incumbent Agustin Teras Narang. Tak berlebihan, Teras Narang memang cukup memiliki kapasitas sebagai pemimpin Kalteng. Ini dibuktikan dengan keberhasilannya memimpin sekitar 2 juta penduduk wilayah ini dalam periode kepemimpinan sebelumnya. Secara kebetulan Teras Narang juga diusung parpol besar PDI Perjuangan, yang dikenal cukup solid dan memiliki mesin politik yang tangguh. Bagi publik Kalteng , khususnya pemilih tradisional dan berpendidikan agaknya tak terlalu sulit menentukan siapa yang harus dipilih dalam pilkada nanti.
Saat ini di Bumi Tambun Bungai hampir belum ada figur calon gubernur yang memiliki ketokohan seperti Teras Narang. Muda , smart dan memiliki jaringan luas di pemerintah pusat. Di propinsi ini bukan tak ada kader berkelas yang mampu memimpin, hanya saja kapasitasnya baru dalam level kabupaten/kota.Mereka cukup berhasil memimpin daerahnya, tapi belum tentu mampu mengakomodir beragam kepentingan di tingkat propinsi. Sebut saja nama Wahyudi K Anwar( Bupati Kotawaringin Timur), Zain Alkim ( Bupati Barito Timur), Baharudin H Lisa ( Bupati Barito Selatan). Atau Willy M Yosef ( Bupati Murung Raya ).Kandidat yang cukup potensial bakal menandingi Teras Narang justru adalah wakilnya sendiri, yaitu Achmad Diran. Persoalannya, apakah Diran punya ‘perahu’ dan cukup amunisi untuk maju dalam pilkada.
Nama-nama bupati ini beberapa pekan terakhir ramai diberbincangkan bakal maju menandingi Teras Narang di Pilkada Kalteng mendatang. Sejumlah politisi di wilayah ini mulai melakukan manuver menggalang dukungan untuk mencalonkan kandidat tertentu. Wacana bahwa paket Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng harus pasangan Muslim sempat mengemuka. Wacana sentimen agama dalam pilkada yang memiliki tensi politik tinggi sebenarnya sangat disayangkan. Sebab, Kalteng yang penduduknya sangat pluralistis sebenarnya tak pernah mempersoalkan hal tersebut.Politisasi agama terbukti akan membuat porak porandanya harmonisasi sosial. Tapi, politik adalah pertarungan kepentingan yang sulit ditepis.
Wacana pasangan Muslim otomatis akan menjadi rival politik Teras Narang yang beragama non –Muslim. Masalahnya, apakah isu agama laku dijual di Kalteng ?
Kalteng bukan Aceh atau Jawa yang dapat membuat penduduknya menentukan pilihan bedasarkan agama tertentu. Cara berfikir masyarakat di daerah ini masih cukup realistis dan obyektif.
Masih tingginya ‘nilai jual’ Teras Narang dalam pilkada mendatang membuat figur wakil gubernur tidak menjadi begitu penting.Artinya, dengan siapapun dipasangkan Teras Narang tetap menang.
Sejauh ini informasinya masih sangat prematur, setiap detik ritme politik selalu berubah.Yang pasti Teras Narang masih terlalu kuat untuk disaingi.
(foto : H Mahrip terkulai lemas )
Tubuh Haji Mahrip (55) limbung. Badannya terkulai lemas begitu mendapat kabar bahwa isterinya Hj Sumiati meninggal dunia di Kota Praya, Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) , Minggu (16/8) siang.
“ Isteri saya meninggal,” tuturnya kelu.
Kabar duka yang diterima KSK Berprestasi (KSKP)Tahun 2009 asal Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut sontak membuat 32 KSK Berprestasi lainnya turut larut dalam suasana duka. Informasi meninggalnya Hj Sumiati diterima dari anaknya melalui telepon ketika para KSK dari 33 Propinsi di Indonesia tengah melakukan kunjungan wisata di Taman Impian Jaya Ancol ( TIJA) Jakarta Utara. Duka mendalam juga tergambar di wajah para panitia pendamping dari BPSPusat.
H Mahrip yang sebelumnya periang dan selalu bercanda terkulai di pelukan salah satu panitia. Ia lalu dibawa ke salah satu ruangan di taman hiburan tersebut untuk menenangkan diri.
Sementara di luar ruangan sejumlah KSK lain tampak bingung,antara perasaan sedih dan ingin segera mendapat penjelasan bagaimana penanganan selanjutnya. Setelah berembuk dengan para KSK, akhirnya panitia memutuskan hari itu pula mengantarkan H Mahrip pulang ke
Sebelumnya H Mahrip lebih dahulu mengemasi barang-barangnya di Hotel Alia , Pasar Baru tempat KSK Berprestasi menginap selama di
Kunjungan wisata ke kawasan TIJA yang telah diagendakan panitia KSKP 2009 tetap berjalan, meski kurang lengkap karena tanpa kehadiran H Mahrip.
KSKP asal Jambi M Amin mengatakan, dua hari sebelumnya H Mahrip sempat saling telepon dengan almarhumah isterinya. Saat itu Hj Sumiati minta dibelikan kerudung dan kain batik.
“ H Mahrip sempat berbicara riang dengan isterinya melalui telpon genggam,asyik sekali tampaknya” kenang M Amin dengan logat Jambinya yang kental kepada Varia Statistik, pekan lalu.
H Mahrip yang di lahirkan di Lombok Tengah, pada 31 Desember 1954 betul-betul menepati pesanan isteri tercintanya. Ketika para KSK diberi kesempatan berbelanja di ITC Cempaka Mas, pria berkumis yang akrab disapa ‘Pak Haji ‘ itu langsung menuju toko pakaian. Yang dibeli adalah kerudung dan kain batik pesanan isterinya.
Karena menggebu-gebu ingin mencari kerudung, H Mahrip bahkan sempat ‘tersesat’ di pusat perbelanjaan milik waralaba asing tersebut.
“ Ini pesanan isteriku tercinta,” ujar H Mahrip bangga sambil menunjukkan kerudung yang baru dibeli kepada KSK lainnya.
Berkumpulnya 33 KSK Berprestasi dari 33 propinsi di Indonesia di Jakarta dari 9 – 19 Agustus 2009 membawa kesan tersendiri bagi lini depan BPS itu.
Saat menjalankan tugas di
“ Mama tua ku ( isteriku)melahirkan. Anak kelima,” ujar Umbu Pati tersenyum simpul.